Ini BUKAN tulisan saya yaaa....
Blog ini seringkali saya gunakan untuk kepentingan pribadi, agar memudahkan membaca topik yang menarik dan bermanfaat buat saya.
Tulisan ini saya dapet dari hasil share mbak Swietania (bunda Rigon, teman anak saya) dari Grup Whatsapp. Biasaa yaa, kalo di grup pasti banyak yang share, tapi akhirnya susah dicari lagi karena ketumpuk messages atau foto2 yang banyaknyaaa ampuun... :)
Wokeh, jadi tulisan ini sebenarnya merupakan resume dari acara Indonesia Morning Show NET TV tanggal 24 Feb 2016 yang menampilkan narasumber ibu Elly Risman, Psi.
Yang Hilang Dari Ibu Bekerja
1. Attachment (kelekatan)
Bukan dari segi fisik, melainkan dari jiwa ke jiwa. Dengan kurangnya attachment ini, maka rangsangan ke otak juga berkurang. Saat di scan, anak dengan attachment yang cukup akan lebih berwarna dibandingkan yang kurang.
2. Waktu
Waktu terbagi 2, yaitu Real Time dan Moment. Moment di mana anak mulai berjalan, mulai bicara dsb. Ada kebutuhan anak yang tidak dapat dipenuhi oleh Ibu disini.
3. Komunikasi
Saat anak beranjak dewasa, komunikasi biasanya lebih banyak menggunakan media handphone. Tidak ada ekspresi yang bisa ditangkan dari sana.
Orangtua harus menyadari 3 poin yang hilang tersebut. Otak akan bekerja sesuai dengan kebiasaan yang terbentuk. Pada ibu yang bekerja, dalam otaknya mau tidak mau porsi pikirannya akan lebih didominasi oleh masalah pekerjaan. Akhirnyaa....porsi anak juga akan berkurang secara otomatis.
Switching harus didorong oleh kesadaran yang besar, dukungan keluarga dan upaya dari orang yang bersangkutan.
Jadi bagaimana menyiasatinya??
1. Attachment
Saat pulang, ambil jarak antara pekerjaan dengan tanggungjawab sebagai ibu / ayah. Lepaskan semua beban pekerjaan di tempat kerja, entah itu tugas yang masih belum terselesaikan atau kemacetan di jalan yang membuat stress.
Kita harus selalu ingat bahwa ketika diamanahi seorang anak, maka kita bertanggung jawab penuh pada Allah Swt.
Gunakan waktu untuk lebih banyak mengobrol, memeluk, membaca bahasa tubuh, dan mendengarkan perasaan anak. Ini bukan masalah Quality Time Vs. Quantity Time. Tidak akan mungkin ada Quality Time tanpa adanya Quantity Time.
2. Komunikasi
Kita harus pandai membaca bahasa tubuh dan menebak perasaannya agar anak merasakan adanya penerimaan.
30 menit sebelum sampai rumah kita harus focus. Tinggalkan semua pikiran tentang Gadget.
Camkan dalam hati, "anakku sudah menunggu di rumah, anakku bisa saja sewaktu-waktu diambil oleh Pemiliknya, saya harus memenuhi atau membayar waktu kala tidak berasa di sampingnya"
Jika tubuh terlalu lelah, sedangkan anak terlalu crancky, beri batasan pada anak, "Maaf ya nak...Ibu / Ayah capek, kalau kamu begitu terus, ibu / ayah bisa marah, sebentar ya..."
Lalu usahakan untuk menenangkan diri sendiri, bisa dengan shalat, mandi atau hal lainnya. Pikirkan lagi dalam-dalam bahwa hutang waktu pada anak HARUS dibayar.
Kalo sangat terpaksa menggunakan babysitter, maka camkan dalam hati bahwa dia hanyalah asisten. Kita juga harus telusuri riwayat babysitter dengan baik. Bagaimana latar belakang keluarganya? Pola asuh ayah dan ibunya? Karena secara langsung akan memengaruhi caranya dalam merawat anak kita.
Jangan pula lupa untuk cek HPnya untuk mengetahui adanya pornografi / tidak. Hal terakhir ini adalah poin yang seringkali terlewatkan pada kebanyakan keluarga saat ini.
No comments:
Post a Comment